Sejarah Herbarium Bandungense

popta

Herbarium Bandungense merupakan herbarium tertua kedua di Indonesia setelah Herbarium Bogoriense (BO) dan saat ini pengelolaannya berada di bawah naungan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung. Pembangunan Herbarium Bandungense dirintis oleh sekelompok ilmuwan berkebangsaan Belanda yang mencintai keanekaragaman flora di Kawasan Priangan. Beberapa di antaranya adalah Sicco Martinus Popta (1887 – 1968) dan Leendert van der Pijl (1903 – 1990). Herbarium Bandungense telah resmi berdiri dan terdaftar dalam Index Herbariorum, sejak edisi pertama, dengan kode FIPIA dan status University Herbarium pada tahun 1949 [di sini]. Herbarium Bandungense mendapat kode FIPIA, karena pada saat didaftarkan dalam Index Herbariorum, Biologi ITB berada dibawah Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA). Kode tersebut hingga saat ini masih berlaku.

Sebagian besar spesimen herbarium yang disimpan di FIPIA merupakan spesimen yang dikoleksi oleh S.M. Popta. Pada saat Perang Dunia Kedua berlangsung, sebagian koleksinya hilang, kecuali sepuluh nomor koleksinya yang disimpan di BO. Pascakemerdekaan, S.M. Popta kembali mengoleksi jenis-jenis tumbuhan di sekitar Bandung dan disimpan di FIPIA sebagai bahan ajar pendidikan. Selain itu, FIPIA juga menyimpan spesimen yang dikoleksi oleh A.G.L. Adelbert, A.J.G.H. Kostermans, C.A. Backer, C.E. Stehn, C.G.G.J. van Steenis, D. R. Pleyte, E. Stern, J.A. Lorzing, J.H. Kern, J.H.F. Neubauer, J.R. Flenley, L. van der Pijl, L.R. Lanjouw, M.M.J. van Balgooy, R.A. Maas-Geesteranus, R.C. Bakhuizen van den Brink, P. Buwalda, R.H. Miller, dan W. Meijer.

pdr

Pendiri FIPIA, L. van der Pijl (kiri) dan S.M. Popta (kanan)